Skip to content

nikmat berjumpa dengan gagasan-gagasan besar

nikmat berjumpa dengan gagasan-gagasan besar

  • Home
  • Tentang Penulis
  • Toggle search form

TANGGUNG JAWAB MORAL DAN INTELEKTUAL

Posted on 28 April 2026 By Budiman No Comments on TANGGUNG JAWAB MORAL DAN INTELEKTUAL

Akademis, Iron Stock dan Agent of Change

Saya ingat setiap kali kami, mahasiswa baru, dikumpulkan oleh para senior dan diberikan arahan (‘taujih’ istilahnya), seringkali para senior itu menyisipkan tema mengenai mengenai tanggung jawab sebagai mahasiswa. Arahan-arahan itu seringkali menyinggung tiga peran mahasiswa yang harus kami emban; peran akademis, peran sebagai iron stock, dan perann sebagai agent of change. Peran akademis, peran untuk mengusasi bidang ilmu. Peran sebagai iron-stock, cadangan keras masa depan, tidak jelas benar isinya bagi saya ketika itu. Yang terbayang hanya sebagai calon pengisi lini-lini kehidupan negara ini di masa depan. Peran sebagai agent of change adalah peran sebagai agen perubahan di masyarakat.

Melalui arahan-arahan itu, tiga peran mahasiswa di atas tersosialisasi, sehingga menjadi nilai yang sadar tidak sadar mengarahkan banyak aktivitas yang dijalani. Di antara ketiga peran itu, tentu peran sebagai agent of change, bagi kami tampak menjadi nilai (sesuatu yang memang kita inginkan) yang menggairahkan semangat ketika itu. Nilai peran sebagai agen perubahan menjadi sangat bermakna ketika ia bertemu dengan latar belakang sebagai mantan aktivis rohani Islam, yang dimentori oleh aktivis kampus ‘perjuangan rakyat’, serta situasi sosial-politik di penghujung era Order Baru (1997-1998). Imajinasi (makna) menjadi, agen perubahan, menemukan momentum dalam beragam kegiatan organisasi maupun demonstrasi di dalam atau di luar kampus.

Tentu saja kadang ada perbenturan antar peran itu. Ada peran yang kadang dikorbankan. Kadang misalnya, walaupun sebenarnya bisa dikompromikan, bolos kuliah lebih diutamakan daripada tidak mengikuti demonstrasi.  Di sini saya tidak ingin mengatakan harus dikorbankan, karena bisa jadi apa yang saya lakukan dulu juga sebentuk konpensasi ketidakcakapan menjalani peran akademis itu. Secara hirarki, nilai peran sebagai agent of change tampak menduduki tingkat yang lebih tinggi (dalam mentalitas pribadi ketika itu).

Walaupun ada benturan antar peran, ketiga peran di atas tetap menjadi pandu dalam menjalani kegiatan kemahasiswaan secara ikhlas. Ikhlas menjalani belajar, ikhlas dalam bermimpi menjadi cadangan masa depan negara (mungkin maksudnya sebagai profesional), juga ikhlas berperan (setidaknya merasa berperan) sebagai agen perubahan. Setidaknya juga kita memahami menjadi mahasiswa tidak sekedar mencapai gelar akademis (yang ini memang susah payah juga harus dicapai). Menjadi mahasiswa berarti tidak sekedar menyiapkan diri biar setelah lulus bisa segera kerja, tetapi ada tanggung jawab lain yang menautkan kita dengan masyarakat, bangsa, negara, umat maupun dunia. Tanggung jawab yang bersifat moral dan intelektual kita sebagai orang terpelajar (untuk tidak mengatakan mahasiswa karena faktor usia).

Tanggung Jawab Moral dan Intelektual

Apa itu tanggung jawab moral dan intelektual ? Dari mana munculnya tanggung jawab itu muncul ?

Tanggung jawab moral berkaitan dengan kesadaran etis kita terhadap yang baik dan buruk. Tanggung jawab intelektual terkait dengan kesadaran kita terhadap yang benar dan yang salah. Dua tanggung jawab ini muncul dari posisi kita sebagai orang terpelajar, orang berilmu, (‘yang makan sekolahan’ kata orang dulu), entah kita masih mahasiswa maupun sudah lulus.

Barangkali tidak ada yang sefasih Bung Hatta ketika membicarakan kedua jenis tanggung jawab ini. Berbicara mengenai tanggung jawab seorang terpelajar beliau menyatakan, “Dan tanggung jawab seorang akademikus adalah intelektuil dan moril ! Ini terbawa oleh tabiat ilmu itu sendiri, yang ujudnya mencari kebenaran dan membela kebenaran.”[1]

Kultur ilmiah di lingkungan perguruan tinggi bagi Bung Hatta bukan semata untuk transfer pengetahuan, tetapi untuk membentuk karakter. Melalui proses pencarian ilmu dibentuk karakter yang menghargai nilai kebenaran ilmu sekaligus membela kebenaran ilmu.

“Apabila membentuk manusia susila dan demokratis yang insaf akan tanggung jawabnya atas kesejahteraan masyarakat nasional dan dunia seluruhnya menjadi tujuan terutama dari pada perguruan tinggi, maka titik berat dari pendidikannya terletak pada pembentukan karakter, watak. Memang, itulah menurut pendapat saya tujuan dari pada Universitas atau Sekolah Tinggi. Ilmu dapat dipelajari oleh segala orang yang cerdas dan tajam otaknya, akan tetapi manusia yang berkarakter tidak diperoleh begitu saja. Pangkal segala pendidikan karakter ialah cinta akan kebenaran dan beranai mengatakan salah dalam menghadapi sesuatu yang tidak benar. Pendidikan ilmiah pada perguruan tinggi dapat melaksanakan pembentukan karakter itu, karena – seperti saya katakan tadi- ilmu ujudnya mencari kebenaran dan membela kebenaran.”[2]

Dilema Moral dan Intelektual

Saya dan rekan-rekan saya sudah tidak lagi berstatus mahasiswa. Anak-anak mereka yang menjadi mahasiswa sekarang. Apakah nilai-nilai saya saya uraikan di atas dipahami oleh anak-anak kita yang jadi mahasiswa ? Adakah situasinya berbeda, karena nilai yang diutamakan adalah agar mereka menjadi marketable dan cepat terserap pasar (industri) ?

Bagi kita yang dulu semasa mahasiswa terbiasa mengatakan tidak pada kesewenang-wenangan kekuasaan, apakah nilai-nilai kritis itu juga kita salurkan dalam kultur anak-anak kita yang menjadi mahasiswa ?

Bagi kita yang besar dalam kultur aktivis tarbiyah, sementara gerakan bertransformasi menjadi partai politik yang kadang ada dalam posisi koalisi dengan kekuasaan dan kadang ada dalam posisi oposisi kekuasaan; adakah nilai-nilai kritis anak-anak kita yang menjadi mahasiswa tetap kita asuh dan tumbuh kembangkan (sebagai tanggung jawab moral dan intelektual kita, tanggung jawab kita sebagai orang berpengetahuan) atau justru kita biarkan tidak terarwat, tidak perlu ditumbuhkan. (Mudah-mudahan kita tidak malah melakukan pembungkaman daya kritis anak-anak kita).

Rekan-rekan maupun senior-senior yang saya kenal dulu serta berserikat dalam nilai-nilai di atas, sebagian kini sudah menjadi pegawai, pekerja, wirausahawan, akademisi maupun penguasa. Di hadapakan terhadap niali-nailai di atas, selalu saja mereka akan menemui dilema untuk mengatakan yang benar itu benar dan mengikuti jalan kebenaran itu, serta mengatakan yang salah itu salah dan menjauhi yang salah itu. Bagi mereka yang sudah menemukan metode cepat untuk menyelesaikan dilema itu, alhamdulillah. Tidak mudah menyelesaikan dilema, karena memang tidak bisa diselesaikan dengan putusan hitam atau putih. Putusan atas masalah dilematis perlu refleksi terhadap nilai-nilai yang kita pilih, sekaligus keberanian moral untuk menentukan pilihan.

 

Budiman

Jakarta, 28-04-2026

[1] Tanggung jawab moril kaum Intelegensia, pidato pada Hari Alumni I, UI, 11 Juni 1957. Bab 5 dalam buku, Bung Hatta Berpidato-Bung Hatta Menulis, Mutiara 1979 hal. 74

[2] ibid, hal 78

Lintasan Pikiran Tags:moral, intelektual

Post navigation

Previous Post: MENUMBUHKAN IDE YANG MENGGERAKKAN DENGAN SENI MEMBACA

More Related Articles

KUNCI KEPRIBADIAN, REFLEKSI ATAS SERI KEJENIUSAN KARYA AL-‘AQQAD Artikel
Balasan Bagi Si Jenius Sinnimar Lintasan Pikiran
Bukan Orang Kita Lintasan Pikiran
Silogisme Mematikan Lintasan Pikiran
Kisah Arnab dan Kura-Kura Lintasan Pikiran
Antara Gelar dan Karakter Lintasan Pikiran

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori

  • Artikel
  • Esai
    • Refleksi Studi Qur'an
      • Refleksi Surat Al-Baqarah
      • Refleksi Surat Al-Fatihah
      • Refleksi Surat Al-Kahfi
  • Lintasan Pikiran
  • Peradaban Buku
  • Perubahan Sosial

Populer

  • Antara Gelar dan Karakter
  • Psikologi Dagang dalam Ibadah
  • Kunci Memahami Surat Al-Baqarah, Struktur Tematis Menurut Khurram Murad
  • KUNCI KEPRIBADIAN, REFLEKSI ATAS SERI KEJENIUSAN KARYA AL-‘AQQAD
  • Refleksi Atas Surat Al Kahfi dalam Tadabbur-i-Qur’an Amin Ahsan Islahi

Tags

A. Hassan abbas mahmud al-aqqad abqariyah umar abqariyat al-'aqqad Al Furqan A. Hassan bagaimana membaca bennabi budaya ilmu buya hamka dakwah dan tarbiyah hamka hasan al hasan al banna Hasi Siddiqy ikhwanul muslimin intelektual kejeniusan abu bakar kejeniusan umar kejiniuasan khalid kepuasan rohani khurram murad koherensi tematis literasi m.a darraz m.a draz maududi membaca membaca buku moral muhammad abdullah darraz Qaradawi Qaradhawi Qardhawi Qutb risalah taalim Sayyid Qutb seri kejeniusan studi qur'an tafsir al azhar Tafsir Al Furqan tafsir surat al-baqarah tafsir surat al fatihah tafsir surat al kahfi Yusuf Qaradhawi

Copyright © 2026 nikmat berjumpa dengan gagasan-gagasan besar.

Powered by PressBook Blog WordPress theme