Skip to content

nikmat berjumpa dengan gagasan-gagasan besar

  • Home
  • Tentang Penulis
  • Toggle search form

Partai Pendidikan

Posted on 4 May 20264 May 2026 By Budiman No Comments on Partai Pendidikan
Halakah, Tarbiah dan Pendidikan

Sewaktu SMA dulu kegiatan halakah (baca : halaqoh) atau liqo (pertemuan pekanan) sering kami sebut sebagai aktivitas tarbiah Islam. Tarbiah sendiri secara adalah sinonim dari pendidikan. Bagi pikiran sederhana kami saat itu, aktivitas itu adalah aktivitas paling solutif bagi permasalahan umat. Dalam imajinasi kami, solusi bagi masalah umat adalah tarbiah (pendidikan). Lebih sempit lagi, bahkan barangkali ada yang sampai pada kesimpulan solusi masalah umat saat ini adalah halakah, liqo (pertemuan) pekananan. Semakin banyak yang ikut terlibat dalam halakah, semakin dekat umat mencapai solusi bagi permasalahannya.

Tetapi, bukankah kami bersekolah di SMA, dan sekolah merupakan bagian dari pendidikan. Nama departemen (kementrian) yang menangani urusan sekolah dan perguruan tinggi dulu selalu ada kata pendidikan di dalamnya. Lalu apa yang membedakan aktivitas yang kami sebut  tarbiah, yang kami lakukan itu dengan pendidikan yang berjalan di masyarakat secara umum ?

Kalau kita coba merefleksikan hal di atas, mengganggap halakah sebagai aktivitas pendidikan dalam pemahaman kami di atas, sebenarnya ada benarnya, walaupun kurang berwawasan. Halakah bukan keseluruhan pendidikan Islam itu sendiri. Kegiatan halakah merupakan kegiatan pendidikan, sebagai satu sarana atau wahana pendidikan. Wahana dalam konteks pendidikan Islam. Lebih khusus lagi, wahana dalam konteks pendidikan Islam dalam madrasah (sekolah, aliran) pemikiran tertentu, madrasah yang mengadopsi pemikiran dari gerakan Islam  Al-Ikhwan Al-Muslimun.

Pendidikan, dalam arti yang luas sebagai proses pembentukan manusia sesuai cita-cita sebuah bangsa, sebagai salah satu strategi yang harus ditempuh oleh sebuah bangsa untuk bangkit dan maju, saya kira banyak pemikir dari beragam kalangan atau aliran akan sepakat. Walaupun mengenai bentuk, metode bahkan filsafat pendidikannya bisa berbeda-beda.

Refleksi selanjutnya, apakah realistis pemikiran kami ketika itu bahwa halakah atau liqo menjadi solusi bagi permasalahan umat ? Jika yang dimaksudkan adalah bahwa semua permasalahan umat akan selesai dengan banyaknya halakah terbentuk, memang pemikiran ini tampak naif. Jika yang dimaksudkan untuk menyelesaikan satu aspek masalah khusus dari begitu banyak permasalahan umat Islam, yaitu aspek kaderisasi, tentu pemikiran ini tidak sepenuhnya salah.

Sering dikutip oleh senior-senior kami di kuliah dulu, “Tarbiah bukan segala-galanya, tetapi segala-galanya perlu tarbiah.” Maknanya bukan berarti yang lain tidak penting, tetapi aspek kaderisasi dalam sebuah gerakan adalah aspek yang penting atau menjadi poros bagi aktivitas lain. Apakah tujuan sebuah gerakan kemudian hanyalah tarbiah  (pendidikan) ?  Di sini mungkin arti tarbiah sebagai sasaran maupun sarana dalam pergerakan perlu kita pertimbangkan.

Partai Pendidikan

Dalam konteks politik, apakah dapat kita temukan partai yang menjadikan pendidikan sebagai basis atau tema utama mereka ? Kalau kita mencari partai dengan nama yang mengandung kata pendidikan di dalamnya, dari partai-partai peserta pemilu lalu, saya kira kita tidak akan menemukannya. Tapi kalau kita melihat ke sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, sekitar tahun 1930-an, setidaknya kita akan bertemu dengan sebuah partai politik bernama Pendidikan Nasional Indonesia atau lebih dikenal sebagai PNI Baru, besutan Bung Hatta dan Sutan Sjahrir. PNI Baru adalah anti-tesis dari Partai Nasional Indonesia, PNI, besutan Bung Karno.

Sebenarnya, ide partai pendidikan identik dengan ide partai kader. Partai kader merupakan anti-tesis dari partai massa. Jika partai massa berupaya membangun solidaritas politik bangsa secara luas melalui agitasi, maka partai kader membangun kader-kader yang dapat membimbing masyarakat menghargai, berjuang dan teguh dalam upaya mencapai cita-cita politik bangsa.

Tentu saja, setiap partai politik untuk bisa meraih tujuannya selalu memerlukan kader maupun massa. Beda partai kader dan partai massa terletak pada metode perjuangannya. Partai kader fokus pada pembentukan kader-kader yang memiliki wawasan yang komprehensif terhadap ideologi, cita-cita, nilai-nilai, mampu berdialog dengan permasalahan real masyarakat dan mampu memberi pimpinan bagi masyarakat. Metodenya adalah metode pendidikan.

Partai massa fokus pada pembentukan aksi massa yang mampu melancarkan aksi-aksi penuntutan, demonstrasi, temu massa, pemogokan dsb. Metodenya adalah agitasi melalui pidato atau orasi-orasi yang mengobarkan semangat.

Dalam perspektif sejarah, munculnya PNI sebagai partai massa terjadi saat mundurnya pengaruh Sarekat Islam dan dipukulnya pemberontakan PKI oleh pemerintah kolonial Belanda. PNI dengan kegiatan agitasi politiknya berbenturan juga dengan pemerintah kolonial Belanda, dan terjadi penangkapan atas pemimpin mereka (Bung Karno dkk). Ujungnya PNI sendiri dibubarkan oleh kader-kader mereka. Hal yang sangat disesalkan oleh Bung Hatta, yang menurutnya sikap yang tidak teguh dan kurang berani berkorban bagi perjuangan. Maka muncullah PNI-Baru (Pendidikan Nasional Indonesia) sebagai partai yang menjadikan pendidikan, baik dalam arti kaderisasi maupun dalam arti pendidikan politik bagi rakyat sebagai jalan perjuangan mereka.

Pendidik Pemimpin

Pendidikan dalam konteks khusus, dalam gerakan atau partai, adalah proses kaderisasi. Siapakah kader ? Secara leksikal, makna dalam kamus, kader adalah orang yang diharapkan akan memegang peran yang penting dalam pemerintahan, partai dan sebagainya.

Jadi kader ada untuk sebuah cita-cita kepemimpinan, baik kepemimpinan internal (gerakan, partai) maupun kempimpinan dalam pemerintahan maupun masyarakat. Kader tidak ada untuk kader an sich, tetapi kader ada untuk sebuah fungsi. Fungsi itu adalah fungsi kepemimpinan. Sebagian kecil akan berfungsi dalam kepemimpinan politik, sebagiannya akan berfungsi dalam kepemimpinan intelektual.

Dalam konteks ini, pendidikan merupakan proses pembentukan kader. Bagaiman kader dibentuk ? Melalui penanaman nilai-nilai. Nilai itu apa ? Nilai adalah sesuatu yang diinginkan (serta dianggap penting) oleh seseorang. Keadilan, kemanusiaan, demokrasi, kejujuran, kesetiaan, kesalehan adalah contoh dari nilai-nilai. Nilai-nilai apa yang perlu ditanamkan ? Ini tergantung dari pilihan yang memang dipilih oleh gerakan itu.

Pemimpin Pendidik

Pemimpin yang dihasilkan oleh proses pendidikan, kaderisasi, juga mengemban misi pendidikan. Mereka adalah juga pendidik bagi masyarakat.

Bagaimana mereka mendidik masyarakat ? Tentu saja tidak perlu dengan mengajar di depan kelas. Kata kuncinya adalah keteladanan. Mendidik identik dengan keteladanan.

Keteladanan dalam bersikap dan bertindak. Banyak isu-isu sosial-politik yang harus disikapi oleh pemimpin, yang menyangkut hidup dan nilai masyarakat. Banyak situasi memang menuntut pemimpin untuk bersikap. Tidak ada istilah netral dalam menghadapi permasalahan menyangkut nilai sosial-politik masyarakat. Pemimpin selalu harus memberikan sikap. Sikap yang dia berikan akan memberikan efek pendidikan bagi masyarakat.

Keteladanan juga terjadi melalui tindakan. Korupsi yang menggejala di masyarakat terjadi bisa jadi memang karena tindakan para pemimpinnya korup. Melalui tindakan mereka, mereka ‘mendidik’ masyarakat untuk korup juga. (Mungkin lebih tepat menjadi salah didik).

Jika pendidikan dimaknai sebagai proses penanaman nilai-nilai, maka sikap dan tindakan pemimpin berperan dalam menanamkan nilai-nilai kepada masyarakat. Tidak bersikap atas pelanggaran hukum atau etika di level nasional, akan memberi efek salah didik bagi masyarakat dan generasi mendatang.  Melakukan tindakan korup akan memiliki efek salah didik bagi masyarakat dan generasi mendatang.

Budiman

Jakarta, 02-05-2026

Esai

Post navigation

Previous Post: Tanggung Jawab Moral dan Intelektual

More Related Articles

Risalah At-Ta’alim Sebagai Peta Kognitif Aktivis Dakwah Artikel
Koherensi Tematis dalam Tafsir Al-Azhar Buya Hamka, Studi Kasus Surat Al-Baqarah (Bagian 4) Refleksi Studi Qur'an
Membabar Visi Sayyid Qutb tentang Manusia Fikrah Esai
Usaha Mencerahkan Diri Melalui Terjemah Al Qur’an Suci, Tafsir Al Furqan A. Hassan Refleksi Studi Qur'an
Koherensi Tematis dalam Tafsir Al-Azhar Buya Hamka, Studi Kasus Surat Al-Baqarah (Bagian 2) Esai
Kunci Kepribadian, Refleksi Atas Seri Kejeniusan Karya Al-‘Aqqad Esai

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2026 nikmat berjumpa dengan gagasan-gagasan besar.

Powered by PressBook Blog WordPress theme