Masalah, Mess dan Pentingnya Mobilizing Idea
Setiap organisasi tentu saja selalu menghadapi masalah. Masalah-masalah kadang saling berkelindan membentuk situasi karut-marut (mess) , ujung pangkalnya sulit ditemukan untuk mengurai masalah-masalah itu. Kita juga sulit mendefinisikan masalah-masalah itu. Pernyataan, “Kita gagal melakukan rekrutmen kader”, misalnya, di mana letak kegagalannya, apa benar kita sudah melakukan rekrutmen, bukankah kita sudah banyak program rekrutmen dan data rekrutmen juga sudah masuk semua (apalagi datanya bagus-bagus, menggembirakan). Ketika ada kuisioner dengan pertanyaan, “Apakah UPA sudah berjalan dengan baik ?”, banyak menjawab, belum. Dimana letak belum baiknya, apa masalahnya, kenapa belum baik, apa kriteria baik tidaknya UPA kita. Problem-problem tadi saling silang di sana sini, kita sendiri merasa sulit mendefinisikannya, atau barangkali kita belum meluangkan waktu yang cukup untuk mendefinisikan atau mendiagnosis-nya.
Selalu saja masalah-masalah itu juga bertemu dengan situasi serba kekurangan. Kita selalu merasa kekurangan dana, kekurangan kader, tentu saja kekurangan waktu. Faktanya, memang semua organisasi akan selalu merasa kekurangan sumber daya.
Apakah ada celah untuk membantu kita menyelesaikan masalah-masalah dan karut-marut yang kita (atau organisasi) hadapi ? Seorang ilmuwan system thinking menyatakan bahwa ada celah yang memberikan harapan. Celah itu adalah dengan memunculkan apa ia sebut sebagai “mobilizing ideas”, ide-ide yang menggerakkan. Masalah perlu pemecahan, pemecahan itu muncul dari ide. Ide yang menggerakkan untuk melalukan tindakan solutif. Kadang masalah tidak perlu dipecahkan, alih-alih justru dihilangkan (tidak dimunculkan) dengan melalukan re-desain entitas-entitas yang terlibat sehingga problem bisa dieliminasi.

Masalahnya, bagaimana memunculkan ide-ide yang menggerakkan itu ?
Kerangka Belajar
Barangkali kata kunci yang dapat membantu kita untuk memunculkan ide-ide itu adalah belajar. Tentu saja kita sudah belajar sejak kita memulai sekolah. Ada baiknya kita lihat diagram mengenari kerangka belajar di bawah untuk menilai kapasitas belajar kita saat ini.

| Tujuan Belajar | Sarana |
| Akuisisi (Pemerolehan) Pengetahuan | Melalui instruksi didaktik misal : ceramah, kuliah, buku-buku pelajaran di kelas |
| Pengembangan Ketrampilan Intelektual dan Mental (Ketrampilan belajar berupa : membaca, menulis, mendengar, menghitung, mengobservasi, berpikir kritis) | Melalui pelatihan, coaching, dan praktik
(Bagaimana seseorang bisa memiliki ketrampilan membaca misalnya, caranya (ya) dengan membaca, tentu akan efektif dengan supervisi). |
| Peluasan Pemahaman atas Ide-Ide dan Nilai | Melaui dialog dan diskusi. Ide muncul dari pikiran seseorang. Bisa diibaratkan pikiran adalah bayi yang sedang dikandung. Untuk merangsang anak-pikiran itu keluar, perlu ‘bidan’ yang membantu. Bantuannya melalui pertanyaan-pertanyaan yang merangsang dialog (Metode Maeutik atau Sokratik). Note : Maeutik secara bahasa (Yunani) berarti bidan. |
Umumnya proses belajar yang telah kita lalui, lebih dominan belajar pada titik pertama diagram di atas, akuisisi pengetahuan. Kita lebih banyak menerima pengetahuan dari orang lain melalui ‘diberitahu’ alih-alih ‘mencari tahu’. Sedangkan ketrampilan intelektual rasa-rasanya kurang terbentuk. Banyak dari kita yang berhenti membaca setelah lulus sekolah atau kuliah. Kalaupun masih membaca, yang kita banya lebih banyak terkait dengan informasi alih-alih mendalami pengetahuan. Jika masih membaca, teks yang kita baca umumnya teks-teks yang mudah saja, tidak mencari yang kompleks. Tentu hal ini tidak berlaku bagi mereka yang memang intelektual atau bekerja secara akademis. Walaupun ditemukan juga mereka yang bekerja secaa akademis tetapi wawasannya kurang mendalam maupun meluas.
Membaca
Pertumbuhan ilmu dan pengetahuan bersifat akumulatif, bahkan era kita saat ini sering dikenal sebagai era ledakan pengetahuan (informasi). Ketrampilan mengakuisisi pengetahuan semata tidaklah mencukupi, karena peran penyimpanan dan pencarian dapat digantikan oleh teknologi (dan internet). Tujuan belajar yang krusial saat ini adalah membentuk ketrampilan intelektual dan peluasan pemahaman ide dan nilai.
Bagaimana membangun ketrampilan intelektual itu, ketrampilan membaca misalnya ? Tentu saja harus dengan membiasakan membaca. Sebagaimana ketrampilan lain (atau bisa kita sebut sebagai seni secara umum), seni membaca memerlukan usaha (pembiasaan) dan aturan. Seni secara umum berarti kebiasaan kerja dalam aturan.
Pakar lain menyatakan seni memerlukan teori sekaligus praktik. Dua sub-bagian di bawah ini mencoba menggambarkan aspek teori (pengetahuan) dalam seni membaca.
Tujuan Membaca
Secara umum ada dua tujuan membaca, membaca untuk mendapatkan informasi dan membaca untuk memahami. (Ada tujuan lain sebenarnya, membaca sebagai hiburan).
| Membaca untuk mendapatkan informasi | · Ingatan
· Teks, satu level (pemahaman) dengan sang pembaca |
| Membaca untuk memahami | · Keaktifan pikiran, pikiran yang selalu menuntut
· Teks, di atas level (pemahaman) dengan sang pembaca |
Membaca untuk mendapatkan informasi biasanya ditujukan terhadap teks-teks yang memerlukan pemahaman yang mudah. Mudah dalam arti tidak ada kerumitan yang ditemukan oleh si pembaca. Level pemahaman yang dituntut oleh teks setara dengan level pemahaman yang dimiliki oleh si pembaca. Membaca berita di situs berita atau koran, membaca kisah-kisah dalam grup WA, membaca komentar-komentar singkat dalam sosial media; bisa dikategorikan secara umum sebagai membaca untuk mendapatkan informasi.
Membaca untuk memahami lebih dari sekedar mengandalkan ingatan, ia memerlukan keterlibatan pikiran bahkan pikiran yang selalu menuntut (selalu bertanya). Membaca untuk memahami tentu saja memerlukan ketrampilan (seni) khusus yang perlu dilatih. Membaca untuk memahami umumnya mengarah pada teks-teks yang berada level ada di atas pemahaman si pembaca. Teks-teks itu hasil dari karya-karya agung (great books) dari para pemikir, intelektual, maupun ulama besar masa lalu maupun masa kini. Bukan sekedar buku pelajaran yang kita pakai di sekolah-sekolah. Penulis karya-karya agung tentu saja memiliki sudut pandang yang khas, ide-ide segar (baru) yang umumnya di atas pemahaman si pembaca. Si penulis umumnya lebih superior dibanding si pembaca. Pencapaian pemahaman di sini berarti tercapainya level pemahaman si pembaca dengan level pemahaman si penulis.
Tentu ada pertanyaan apa makna pemahaman di sini ? Isi pikiran manusia dapat dipetakan secara hirarkis dalam diagram di bawah ini.

Sifat hirarkis menentukan bahwa bagian yang lebih atas lebih bernilai dibanding dengan yang lebih bawah. Informasi lebih penting daripada data, pengetahuan lebih penting daripada informasi dan seterusnya.
Data terdiri dari simbol yang merepresentasikan properti (sifat) sebuah objek atau peristiwa (kejadian). Data adalah hasil dari observasi, pengindraan. Misal, nama, umur,alamat, hobi, yang merujuk pada seseorang yang disimbolkan melalui aksara dan angka.
Informasi terdiri atas data yang telah diolah untuk menjadi lebih berguna. Data belum punya nilai, hanya setelah diubah menjadi informasi ia punya nilai. Sebagai sebuah analogi, data ibarat biji besi, besi baja hasil fabrikasi adalah informasi. Informasi tersimpan dalam deskripsi yang kita lekatkan pada sebuah objek atau peristiwa, sebagai jawaban atas pertanyaan ‘siapa, apa, kapan, dan berapa banyak’.
Pengetahuan tersimpan dalam instruksi, sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimana (‘how-to’). Pengetahuan adalah tahu bagaimana sistem bekerja, ia mentransformasi informasi menjadi instruksi. Instruksi (langkah-langkah dasar) memungkin kita melakukan kontrol. Dengan kontrol kita mendapatkan efisiensi (melakukan sesuatu secara tepat dan pas).
Tahu bahwa di sebuah kota terjadi sesuatu di sana adalah informasi, tetapi tahu bagaimana caranya sampai ke sana adalah pengetahuan (knowledge). Tetapi mengapa kita perlu sampai ke sana adalah jenis pertanyaan lain. Tahu mengapa, tersimpan dalam eksplanasi, penjelasan sebagai jawaban atas mengapa. Tahu mengapa, memberi kita pemahaman (understanding).
Kebijaksanaan (wisdom) lebih terkait dengan efektifitas, mengerjakan sesuatu yang benar, sebagai lawan dari efisiensi yaitu mengerjakan sesuatu dengan benar (hasil dari pengetahuan dan pemahaman). Kebijaksanaan tersimpan dalam evaluasi.
Membaca untuk memahami terkait dengan hirarki tahu pada level pengetahuan, pemahaman dan kebijaksanaan. Teknologi informasi dan kecerdasan artifisial (AI) bisa membantu kita menyimpan, mengolah data dan informasi, serta menhasilkan pengetahuan berdasarkan aturan produksi yang pasti, tetapi pemahaman dan kebijaksanaan adalah wilayah kecerdasan manusia. Pemahaman dan kebijaksanaan menentukan alasan (mengapa) dan apa yang benar untuk kita kerjakan (nilai).
Level Membaca
Langkah-langkah membaca dapat dipetakan menjadi beberapa level, seperti diagram di atas. Level di atas selalu melibatkan level di bawahnya. Untuk mampu membaca secara analitis kita perlu melakukan membaca secara inspeksional terlebih dahulu, demikian pula untuk level membaca sintopikal.

Membaca Dasar. Kemampuan membaca dasar adalah kemampuan mengerti kata dan kalimat. Kemampuan yang sudah kita miliki ketika sudah lulus dari sekolah dasar.
Membaca Inspeksional. Sasaran membaca secara inspeksional adalah mengetahui apa jenis (genre) buku yang kita baca, apa tema utamanya, apa saja bagian-bagiannya (bab-babnya), apa koherensinya. Untuk menginspeksi sebuah buku ada dua tahap utama. Satu, skimming yaitu dengan membaca secara cepat judul buku, deskripsi di sampul belakang buku, mungkin perlu cek judul aslinya jika buku terjemahan, membaca kata pengantar, daftar isi dan sampling paragraf-paragraf awal setiap bab-nya. Dengan demikian kita sudah mendapatkan struktur dasar (kerangka) dari buku. Bisa juga menilai, layakkah kita melanjutkan pembacaan (benar-benar ditinggalkan atau menunda pembacaan lanjutan). Kedua, dengan membaca keseluruhan buku, tanpa berhenti jika mendapatkan halangan apapun (istilah maupun ide yang belum dipahami), targetnya adalah menyelesaikan buku. Membaca inspeksional memberi kita pemahaman mengenai struktur buku itu (kerangka dan daging ide yang ingin disampaikan oleh penulis).
Membaca Analitis. Tujuannya adalah menginterpretasikan ide penulis dan memberi penilaian (bisa berupa apresiasi maupun kritik). Untuk mencapai tujuan ini sebagai pembaca kita perlu menemukan apa persoalan yang ingin dipecahkan oleh si penulis (apa proposisi masalahnya), bagaimana si penulis memecahkannya (apa argumennya), apakah argumennya memiliki validitas, apa kekuatan maupun kelemahan argumennya, apa inspirasi dan relevansi ide yang diberikan penulis bagi kita. Dalam konteks menilai atau mengkritik perlu diperhatikan etika intelektual, mengkritik setelah memahami apa ide dan argumen orang lain.
Membaca Sintopikal. Istilah sinkronus biasanya diterapkan pada beberapa peristiwa yang terjadi secara dalam waktu yang sama. Analog dengan hal ini, istilah sintopikal dalam membaca dapat berarti membaca beberapa buku secara dalam periode waktu yang sama pada satu topik tertentu. Tujuannya adalah komparasi, pemandingan satu ide dari penulis yang berbeda-beda. Bisa pula melakukan analisis tematik sebuah ide dari satu penulis dari beragam buku-bukunya. Yang bisa juga dimasukkan ke dalam membaca sintopikal adalah membaca sebuah buku terjemahan dengan membandingkan dengan terjemahan-terjemahan lainnya.
Catatan Rujukan
Tidak ada hal baru dalam tulisan ini, karena banyak ide diambil dari banyak pemikir dan penulis. Saya menimba banyak hal dari buku-buku dan penulis berikut. Russel L. Ackoff, bukunya Redesigning The Future, A System Approach To Societal Problem, juga beberapa paper dan artikelnya mengenai berpikir sistem. Mortimer J. Adler dengan bukunya How To Read A Book baik edisi bahasa Inggris maupun terjemahan bahasa Indonesia, manifesto pendidikannya Proposal Paideia, juga Metode Paideia yang diterbitkan terjemahannya oleh sebuah penerbit dengan tajuk seri ketrampilan intelektual. Erich Fromm, bukunya Art of Loving, baik edisi Inggris maupun terjemahannya Seni Mencintai yang memberi inspirasi mengenai arti seni.
